Surat Untuk Soca

Halo Soca! Beberapa saat lalu aku selesai baca bukumu Aku, Meps, dan Beps. Aku sih pre-order bukumu karena aku tahu buku pilihan POST pasti bagus. Daaannn aku benar!

Saat baca bukumu, aku terus-terusan cekikikan di kamar. Anjingku, Echi namanya, sampai ngeliatin aku. Mungkin dia pikir aku sudah mulai gila! Ya gimana gak ketawa, abisnya buku Soca ngingetin aku akan masa kecilku dulu di Salatiga (yang sudah lama sekali, iya iya, aku emang udah tua).

Dulu waktu aku masih kecil, aku juga gak doyan makan sayur. Sama kayak Soca. Tapi sekarang, aku doyan lho. Ya walaupun sayurannya pilih-pilih, tapi kemajuan! Semoga Soca kalau sudah besar juga semakin suka makan sayur juga ya, ternyata banyak manfaatnya makan sayur!

Aku agak kurang senang kalau disindir Meps karena aku tidak makan sayur.

Oh aku senang banget ada resep wedang ronde di bukumu! Aku suka sekali wedang ronde, dulu waktu kecil, aku sering sekali mampir ke kedai wedang ronde langgananku. Oma yang jualan sudah seperti Omaku sendiri, dan dia punya resep rahasia yang buat rondenya enak sekali. Tiada duanya di dunia! Sungguh! Kalau Soca ke Salatiga, kabari aku ya, nanti aku kasih tahu tempatnya.

Kenapa ya Soca kalau ibu-ibu itu sukanya marah-marah. Mamaku (itu Mepsku) juga sukanya marah-marah waktu aku kecil.

Aku sedih juga kalau Meps marahin aku. Tapi kan itu berarti Meps sayang aku. Ya, kan Meps?

Katanya, dulu aku nakal sekali waktu kecil, provokator adikku, bikin gara-gara terus. Padahal aku cuma ingin jadi penghibur saja. Kalau dimarahin Mama, jantungku juga berdebar DUG DUG DUG, sama kayak Soca. Rasanya ingin umpetan saja deh sampai Mama sudah selesai marahnya. Duh.

Mamaku juga orangnya suka sekali ngobrol dan suka sekali menyanyi. Bahkan bunga anggreknya pun dinyanyiin, biar cepat tumbuh katanya. Mungkin Meps harus ketemu dengan Mama supaya mereka bisa ngobrol ngalor ngidul sepanjang hari, berbagi tips bercocok tanam.

Dia betul-betul takut dan menurut sama Meps. Beps bilang, Meps sakti. Tanaman saja nurut, apalagi anaknya?

Papaku (itu Bepsku), orangnya kalem dan pendiem. Dia juga pandai masak nasi goreng…dan coba-coba bikin makanan yang aneh-aneh! Mungkin Beps dan Papa itu diam-diam ingin jadi Masterchef ya.

Aku suka banget baca Soca punya binatang peliharaan banyak sekali. Suka dengan binatang ya Soca? Di rumahku dulu juga ada ayam, bebek, kelinci, hamster, ikan dan anjing. Sampai pusing deh. Rumahku juga selalu ribut, biasanya Papa suka ngomel karena dia gak bisa konsentrasi kerja. Hihihihi! Sekarang sih aku hanya punya dua anjing pudel.

Oh ya Soca, sekarang sudah tahu belum ingin jadi apa? Dulu aku juga sukanya ganti-ganti. Pernah ingin jadi pendeta (kayak Papaku). Lalu ingin jadi pelukis. Pernah juga ingin menjadi ahli gulung kabel. Punya banyak keinginan itu boleh-boleh saja kok!

Tapi aku tidak mau jadi tentara. Aku juga tidak mau jadi penyanyi. Mungkin jadi tukang kayu, bikin-bikin seperti Beps bagus juga. Dan kalau malam jadi ninja.

Pokoknya aku bahagia sekali Soca dan Meps sudah menulis buku ini. Sesekali orang dewasa perlu membaca buku seperti ini untuk mengingatkan tentang masa kecilnya, supaya gak serius terus! Semoga Soca dan Meps terus menulis ya, aku tunggu buku berikutnya.

Aku, Meps dan Beps Book Cover Aku, Meps dan Beps
Soca Sobhita & Reda Gaudiamo
POST Press
December 2016
89

"Aku panggil emakku Meps dan bapakku Beps. Kenapa? Hihihi, aku nggak tahu. Tahu-tahu aku sudah panggil mereka begitu.

Meps rambutnya pendek banget.
Kata Beps, setiap minggu Meps mesti cukur.
Kalau tidak, kesaktiannya hilang.
Apa kesaktian Meps? Nanti aku ceritakan!"

Aggy

Just a girl standing in front of a bookshelf, deciding what to read next.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *